PONTIANAK – Juara MasterChef Indonesia Season 13, Stephanie Meyerson, mengaku perjalanan mengikuti kompetisi memasak tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia menyebut perjuangannya dimulai sejak pertama kali memperoleh apron bertuliskan namanya di ajang tersebut.
Stephanie menuturkan, untuk bisa masuk ke galeri MasterChef, peserta harus melewati berbagai tahapan seleksi yang cukup ketat, termasuk bootcamp dengan sejumlah tantangan memasak.
“Waktu itu saya mendapatkan apron dengan nama. Dari situ perjuangan saya dimulai. Saya harus melalui berbagai challenge di bootcamp. Puji Tuhan bisa lolos dan melanjutkan ke galeri,” ujar Stephanie saat diwawancarai di Pontianak, Senin (16/3/2026).
Ia mengaku sebelumnya hanya menyaksikan kompetisi tersebut melalui televisi maupun platform digital. Karena itu, ketika akhirnya bisa berada langsung di galeri MasterChef, ia merasakan kebanggaan tersendiri.
“Biasanya hanya menonton di TV atau YouTube. Ketika akhirnya bisa masuk galeri, saya merasa tak menyangka bisa sampai di titik itu,” katanya.
Namun, perjalanan di kompetisi tersebut tidak mudah. Stephanie mengatakan setiap peserta harus terus menunjukkan kemampuan terbaik agar dapat bertahan hingga tahap akhir.
Menjelang babak grand final, Stephanie mengaku fokus mempersiapkan menu terbaiknya, terutama hidangan signature dish yang menjadi salah satu penentu pada tahap akhir kompetisi.
“Setiap season konsep grand final berbeda-beda, tetapi biasanya ada signature dish. Jadi saya lebih fokus merencanakan menu untuk signature dish karena itu menjadi penentuan terakhir,” jelasnya.
Stephanie menambahkan, salah satu kekuatan yang ia miliki dalam memasak adalah pada menu penutup atau dessert. Karena itu, ia berupaya memastikan hidangan penutup yang disajikan mampu memberikan kesan mendalam bagi para juri.
“Kekuatan saya ada di dessert. Jadi saya ingin memastikan hidangan di grand final, terutama dessert, bisa memukau dan memberikan poin tinggi,” ujarnya.
Ketertarikan Stephanie di dunia kuliner ternyata telah muncul sejak lama. Ia mengungkapkan sekitar 14 tahun lalu pernah menempuh pendidikan di bidang kuliner yang memberinya dasar keterampilan memasak.
“Sekitar 14 tahun lalu saya pernah kuliah jurusan memasak, sehingga memiliki basic skills meskipun masih dasar,” katanya.
Kesempatan mengikuti MasterChef akhirnya datang setelah ia merasa memiliki waktu dan peluang untuk mengejar impian tersebut. Ia kemudian mendaftar pada Season 13 dan berhasil lolos hingga meraih gelar juara.
Ke depan, Stephanie berencana mengembangkan usaha di bidang kuliner setelah perjalanannya di MasterChef.
“Tentu ada rencana untuk mengembangkan kuliner. Sayang sekali jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan. Nanti tunggu saja apakah restoran atau kafe, saya ingin menjual sesuatu yang benar-benar saya sukai dan menjadi signature dish saya,” tuturnya.
Ia juga berharap pencapaiannya dapat membawa dampak positif bagi kota asalnya, Pontianak, khususnya dalam memperkenalkan kekayaan kuliner daerah.
“Saya berharap apa yang saya lakukan bisa membuat nama Pontianak semakin dikenal, terutama di bidang kuliner. Makanan Pontianak banyak yang enak, dan semoga pariwisata di Pontianak juga semakin berkembang,” harapnya.
Stephanie pun berharap semakin banyak generasi muda dari Pontianak yang berani mengikuti jejaknya untuk berkompetisi di ajang MasterChef Indonesia pada musim-musim berikutnya. (Tr)

