PONTIANAK – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp18,07 triliun sepanjang 2025. Nilai tersebut meningkat 7,18 persen dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah perlambatan permintaan pembiayaan dan meningkatnya persaingan di industri perbankan.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan peningkatan penyaluran pembiayaan Bank Kalbar sekaligus pelaksanaan fungsi intermediasi dalam mendukung perekonomian daerah.
Direktur Utama Bank Kalbar, Rokidi, mengatakan perseroan memfokuskan strategi pembiayaan pada sektor produktif, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai memiliki peran penting dalam perekonomian Kalimantan Barat.
Menurut Rokidi, hingga akhir 2025 porsi kredit UMKM mencapai 43,24 persen dari total portofolio pembiayaan. Angka tersebut melampaui ketentuan minimal 30 persen sebagaimana target yang ditetapkan pemerintah.
“Bank Kalbar terus memperluas akses pembiayaan kepada sektor produktif, khususnya UMKM, melalui pendampingan dan pembiayaan yang berkelanjutan agar pelaku usaha mampu berkembang dan meningkatkan daya saing,” ujar Rokidi.
Selain meningkatkan penyaluran kredit, Bank Kalbar, kata Rokidi, tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent banking) dalam proses pembiayaan. Hal itu tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang tercatat sebesar 1,85 persen atau masih berada di bawah batas maksimal yang ditetapkan regulator.
Sejumlah indikator keuangan Bank Kalbar juga menunjukkan pertumbuhan selama 2025. Total aset meningkat menjadi Rp27,84 triliun atau tumbuh 5,02 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp522,99 miliar atau naik 7,66 persen.
Pada sisi penghimpunan dana, Bank Kalbar membukukan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp21,11 triliun atau meningkat 3,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 85,59 persen.
Perseroan juga mencatat porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sebesar 57,90 persen. Menurut manajemen, komposisi tersebut mendukung efisiensi biaya dana serta menjadi salah satu faktor dalam menjaga daya saing penyaluran kredit.
Menghadapi 2026, Bank Kalbar menyatakan akan melanjutkan penyaluran pembiayaan ke sejumlah sektor strategis, antara lain infrastruktur, konstruksi, UMKM, pertanian, perkebunan, serta proyek-proyek prioritas pemerintah daerah.
Bank Kalbar menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari perannya sebagai bank pembangunan daerah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan akses pembiayaan bagi masyarakat di Kalimantan Barat.(ki)
