PONTIANAK – Buku berjudul “Tengkuluk Mahkota Dayak Dait: Menyulam Kembali Warisan Budaya Air Besar” resmi diluncurkan di GAIA Bumi Raya City, Pontianak, Jumat (30/10/2026). Penerbitan buku ini menjadi salah satu upaya mendokumentasikan dan memperkenalkan kembali warisan budaya masyarakat Dayak Dait di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Buku tersebut mengangkat Tengkuluk Mahkota Dayak Dait, salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan keterkaitan dengan identitas masyarakat adat setempat.
Penelitian dan penyusunan buku ini melibatkan Putra Tarigas selaku peneliti. Prosesnya dilakukan melalui penelusuran sejarah, pengumpulan informasi, serta pendokumentasian pengetahuan masyarakat mengenai keberadaan, bentuk, fungsi, dan makna tengkuluk dalam kehidupan masyarakat Dayak Dait.
Upaya tersebut dilakukan di tengah semakin jarangnya penggunaan tengkuluk dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Hasil penelitian kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat, akademisi, pemerhati budaya, serta generasi penerus dalam mengenal warisan budaya lokal Kalimantan Barat.
Hadirkan Pemerintah, Akademisi, dan Komunitas Budaya
Peluncuran buku ini turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Barat, Juliadi, S.S., M.Sc. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat, Rochma Hidayati, serta Kepala UPT Museum Kalimantan Barat.
Sejumlah komunitas lokal, pemerhati kebudayaan, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Pontianak juga menghadiri kegiatan tersebut.
Kehadiran berbagai unsur ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang diskusi dan meningkatkan perhatian terhadap pelestarian warisan budaya daerah, khususnya tradisi masyarakat adat yang belum banyak terdokumentasikan secara tertulis.
Pelestarian kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan menjaga benda peninggalan leluhur, tetapi juga mencakup pendokumentasian nilai, pengetahuan, keterampilan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Diskusi Buku Bahas Sejarah dan Identitas Budaya Dayak
Selain peluncuran, kegiatan tersebut diisi dengan diskusi buku yang menghadirkan Direktur Eksekutif Institut Dayakologi, R. Giring, dan Kepala UPT Taman Budaya Kalimantan Barat, Gabriel Armando, M.Sn.
Diskusi membahas hubungan antara warisan budaya, identitas masyarakat adat, serta pentingnya pendokumentasian pengetahuan tradisional di tengah perkembangan zaman.
Dalam konteks masyarakat Dayak Dait, tengkuluk tidak hanya dipandang sebagai perlengkapan busana atau penutup kepala tradisional. Keberadaannya juga berkaitan dengan nilai adat, sejarah, kehidupan sosial, dan identitas budaya masyarakat.
Karena itu, pendokumentasian menjadi salah satu langkah untuk menjaga pengetahuan mengenai tradisi tersebut agar tidak terputus antargenerasi.
Melalui diskusi ini, buku hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan referensi sekaligus membuka ruang pembahasan lebih luas mengenai perlindungan dan pemajuan kebudayaan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat.
Sekitar 200 Peserta Hadiri Peluncuran, 100 Buku Dibagikan
Kegiatan peluncuran dan diseminasi buku ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas budaya, mahasiswa, akademisi, pegiat seni, hingga masyarakat umum.
Sebagai bagian dari penyebarluasan hasil penelitian, panitia turut membagikan 100 eksemplar buku “Tengkuluk Mahkota Dayak Dait: Menyulam Kembali Warisan Budaya Air Besar” kepada peserta dan penerima manfaat kegiatan.
Distribusi buku tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai warisan budaya Dayak Dait, sekaligus mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian kebudayaan.
Buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian lanjutan serta membantu generasi muda mengenal tradisi tengkuluk yang menjadi bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Air Besar.
Dorong Pelestarian Warisan Budaya Antargenerasi
Penerbitan buku Tengkuluk Mahkota Dayak Dait menjadi salah satu bentuk pendokumentasian warisan budaya lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan berbagai kalangan.
Keberlanjutan pelestarian tradisi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama masyarakat adat sebagai pemilik sekaligus pewaris pengetahuan budaya.
Selain penelitian dan publikasi, upaya pelestarian juga dapat dilakukan melalui pendidikan, kegiatan kebudayaan, serta pengenalan tradisi kepada generasi muda.
Dengan adanya buku ini, pengetahuan mengenai Tengkuluk Mahkota Dayak Dait diharapkan semakin dikenal luas dan dapat menjadi bagian dari penguatan literasi kebudayaan Kalimantan Barat.
Warisan budaya yang sebelumnya lebih banyak hidup dalam ingatan dan pengetahuan masyarakat kini memperoleh ruang dokumentasi tertulis, sehingga dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Ki)
