SINGKAWANG – Dua warga EA (23) dan H (32) ditemukan tewas dalam kondisi membusuk di kawasan hutan di Kelurahan Sejangkung, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, setelah dilaporkan hilang selama empat hari. Keluarga korban menilai kematian keduanya tidak wajar dan menduga adanya tindak kekerasan, meski pihak kepolisian sempat menyebut dugaan awal korban tersambar petir.
Salah satu korban merupakan anak dari Rusdi, warga setempat yang juga ikut dalam proses pencarian. Menurut Rusdi, anaknya bersama seorang ipar berangkat berburu pada Selasa (16/9/2025) malam.
Karena aktivitas berburu yang biasanya memakan waktu lama, keluarga awalnya tidak curiga saat keduanya tak kunjung pulang di malam pertama. Namun, pada malam kedua, keluarga mulai khawatir dan memutuskan untuk melakukan pencarian.
“Pada hari ketiga, kami menemukan barang-barang korban, seperti baju, sandal, dan tas, sekitar satu kilometer dari titik awal mereka berangkat,” ujar Rusdi, Senin (22/9/2025).
Pencarian berlanjut hingga Rabu malam. Sekitar pukul 23.00 WIB, salah satu anak Rusdi mencurigai adanya gundukan tanah gambut yang terasa lunak saat disentuh dengan kayu. Saat digali, tercium bau menyengat, dan tubuh korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
“Waktu digali, baunya langsung keluar. Ada luka, memar, bahkan patah tulang. Menurut saya, jelas bukan karena tersambar petir,” tegas Rusdi.
Rusdi juga menyebut dirinya saat itu sedang berada di Mapolres Singkawang untuk mengurus izin pencarian. Saat mayat ditemukan, anaknya segera menghubunginya dan mengirimkan rekaman video kondisi lokasi penemuan.
Kedua korban diketahui adalah anak kandung Rusdi dan seorang iparnya. Rusdi mengaku mencurigai dua orang yang disebut berada di sekitar lokasi kejadian.
“Saya sempat bertemu dengan dua orang. Satu mengaku sebagai penjaga kebun, satu lagi mengaku sebagai kongsi dari pemilik kebun. Tapi saya tidak tahu sejauh mana keterlibatan mereka,” ungkap Rusdi.
Sementara itu, Kapolres Singkawang AKBP Dody Yudianto Arruan menjelaskan bahwa kasus ini telah ditangani oleh Ditreskrimum Polda Kalimantan Barat.
“Sejak awal, Polres Singkawang telah melimpahkan penanganan kasus ini ke Subdit 3 Ditreskrimum Polda Kalbar. Seluruh perkembangan penyelidikan dikonfirmasi langsung ke pihak Polda Kalbar,” jelas Dody.
Keluarga korban mengaku belum menerima hasil resmi autopsi hingga saat ini. Namun, mereka menolak dugaan sementara yang menyebut korban meninggal akibat tersambar petir.
“Kalau tersambar petir, tidak akan ada luka seperti ini. Ada bekas tusukan dan patah tulang. Kami minta keadilan,” ujar Rusdi.
Salah satu korban meninggalkan dua anak yang masih balita, masing-masing berusia tiga tahun dan satu tahun. Keluarga kini tak hanya berduka, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk membesarkan kedua anak tersebut.
Selain mengurus pemakaman dan mencari keadilan, keluarga korban juga melakukan ritual adat sebagai bentuk penghormatan. Namun, prosesi tersebut sempat terganggu akibat adanya aksi penutupan jalan oleh pihak yang motifnya belum diketahui secara pasti.(Ki)


Tinggalkan Balasan