PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperkuat daya saing, serta memperluas jangkauan pemasaran melalui pemanfaatan potensi lokal dan teknologi digital.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan 2026 yang dirangkaikan dengan Yudisium Periode I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan) di Auditorium Untan, Pontianak, Senin (26/10/2026).

Norsan mengatakan, pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat perekonomian daerah sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Ia menyebutkan, perekonomian Kalimantan Barat tumbuh sebesar 5,61 persen pada triwulan II 2026. Sementara itu, tingkat kemiskinan tercatat sebesar 5,78 persen pada Maret 2026.

Meski menunjukkan pertumbuhan ekonomi, pengembangan UMKM dan perluasan kesempatan kerja masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, terdapat sekitar 338 ribu UMKM di Kalimantan Barat. Lebih dari 99 persen di antaranya masih berada dalam kategori usaha mikro.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya dukungan berkelanjutan agar pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas produk, dan mengembangkan skala bisnis.

“Pelaku usaha mikro tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan meningkatkan skala usahanya,” kata Norsan.

Menurut dia, Kalimantan Barat memiliki beragam potensi komoditas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk unggulan dengan nilai tambah lebih tinggi. Komoditas tersebut antara lain kopi liberika, kakao, tengkawang, madu, karet, dan hasil perikanan.

Potensi tersebut, lanjutnya, perlu dioptimalkan melalui pengolahan yang lebih baik, inovasi produk, peningkatan kualitas, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pelaku UMKM juga didorong untuk tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai tambah dan daya saing.

Selain penguatan UMKM, Norsan menekankan pentingnya pengelolaan koperasi secara profesional agar mampu mendukung aktivitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa sebanyak 2.143 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kalimantan Barat telah berbadan hukum. Keberadaan koperasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kegiatan ekonomi produktif di tingkat desa dan kelurahan.

Norsan juga mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam pengembangan kewirausahaan, khususnya melalui pemanfaatan teknologi digital dan sektor ekonomi kreatif.

Menurutnya, pemasaran digital dapat membantu pelaku UMKM memperkenalkan produk, memperluas jaringan penjualan, dan menjangkau konsumen di luar wilayah pemasaran konvensional.

Namun, upaya meningkatkan daya saing UMKM perlu disertai penguatan kapasitas sumber daya manusia, perluasan akses pembiayaan, serta pemenuhan legalitas dan sertifikasi produk sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.

Norsan berharap Bursa Wirausaha Unggulan 2026 dapat menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk bertukar pengalaman, membangun kemitraan, serta memperluas jaringan pemasaran guna mendorong UMKM Kalimantan Barat naik kelas.

(TR)